Senin, 12 Januari 2015

Rangkul Pelajar Untuk Konservasi

Let's Conservancy!!!
       
Dewasa ini, peranan terumbu karang kian diperhatikan demi untuk kelangsungan hidup para nelayan.  Bagaimana tidak, dengan adanya terumbu karang, akan memperkaya stok ikan dan biota laut lainnya yang siap dipanen oleh nelayan.  Dengan hasil tangkapan, mereka mendapatkan penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka.
Terumbu karang berguna sebagai habitat ikan-ikan dan biota laut lainnya.  Dengan adanya terumbu karang, ia akan terhindar dari predator dan  serangan ikan buas lainnya.  Terumbu karang merupakan ekosistem perairan dangkal yang hangat dan begitu kompleks.  Di dalamnya tersedia berbagai makhluk dengan kesimbangan ekosistem yang sempurna.
Desa Angsana Kecamatan Angsana, merupakan salah satu desa yang termasuk kawasan konservasi perairan yang ada di Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan.  Dengan keanekaragaman terumbu karang yang dimilikinya, menjadikan ia sebagai wisata unggulan di Kalimantan Selatan.
Mengingat sejarah beberapa tahun silam, dalam perkembangannya Wisata Angsana Bahari dan Terumbu Karang tidak terlepas dari berbagai pihak, yang salah satunya adalah buah dari semangat dari kiprah penyuluh perikanan  sejak tahun 2007 hingga sekarang.  Dalam perjalanannya, semua itu tidaklah diperoleh secara gratis dan mudah, tetapi diperoleh dengan perjuangan yang pahit, sulit dan menegangkan.
 Penyuluh perikanan, merupakan tombak dari keberhasilan pembangunan kelautan dan perikanan yang menjelma dan berbaur kepada masyarakat hingga secara kasat mata ia tidak bisa dilihat, namun bisa dirasakan oleh segenap hati nurani bagi masyarakat perikanan yang mempunyai semangat dan dedikasi yang tinggi untuk maju, tumbuh dan berkembang.
Dalam histori perjalanannya, kegiatan konservasi berawal dari kegiatan survey, monitoring dan observasi di lapangan yang kesemua itu tidak diperoleh dengan mudah.  Setelah data, informasi dan dokumentasi diperoleh kemudian diekspose ke berbagai media.
Hingga saat ini, segala program konservasi telah dilakukan dan bekerja sama dengan segenap perguruan tinggi, dinas terkait yang kesemua itu bekerja sama dan melibatkan penyuluh perikanan sebagai tuan rumah yang mempunyai wilayah binaan.  Dalam perjalanannya di lapangan, penyuluh perikanan sebagai ujung tombak, menindaklanjuti dan menyambung kegiatan-kegiatan tersebut dengan membina para kelompok pelaku utama perikanan ke arah konservasi.
Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun pun silih berganti.  Akhirnya, sebagai bukti dan hasil perjuangan, sejak beberapa tahun silam hingga kini, Wisata Angsana Bahari dan Terumbu Karang pun telah mulai dilirik dan dikunjungi oleh khalayak ramai.
Dalam perkembangannya, hingga sekarang penyuluh perikanan tidak saja membina dan mengkader para kelompok pelaku utama perikanan, tetapi juga masyarakat umum dan para pengunjung selalu diberikan pengetahuan mengenai konservasi terumbu karang, teknik transplantasi dan snorkeling.  Begitu pula halnya dengan “pelajar”, yang juga tidak luput menjadi obyek sasaran penyuluhan bagi penyuluhan perikanan.  
Beberapa waktu yang silam, sebanyak 16 (enam belas) orang pelajar beserta pendampingnya yang tergabung dari Team Pengembara Dewan Kerja Gerakan Pramuka Kwartir Liang Anggang (Banjarbaru, Kalimantan Selatan).  Kegiatan ini terlaksana atas kerja sama Ikatan Penyuluh Perikanan Indonesia (IPKANI) DPC. Tanah Bumbu dengan Team Pengembara Dewan Kerja Gerakan Pramuka Kwartir Liang Anggang.  Pada kegiatan ini, para peserta diberikan materi berupa fungsi dan peranan terumbu karang, teknis transplantasi karang dan cara melakukan snorkeling yang baik dan ramah lingkungan.  Pada praktiknya, mereka diajak secara langsung ke lapangan (ke gugusan terumbu karang, Batu Anjir).
Selama 2 (dua) hari, para pelajar nginap di homestay warga di pantai Angsana, selama itu juga mereka diajarkan, dibekali dan digembleng oleh penyuluh perikanan dengan harapan akan timbul di hari mereka akan kecintaan terhadap terumbu karang ini.
Tepat pukul 08.00 Wita, dengan sebuah kapal nelayan, kami pun menuju Batu Anjir, salah satu gugusan karang yang ada di Angsana.  Demi untuk keselamatan (safety) peserta dianjurkan menggunakan lifejacket atau pelampung.  Sesampai disana, peserta diberikan pemahaman kembali tentang apa yang sudah diajarkan, setelah itu langsung praktik di lapangan.  Sebelum praktik transplantasi, peserta terlebih dahulu diajarkan teknik snorkeling, yaitu menggunakan peralatan masker dan snorkel untuk menunjang deploy (penceburan) subtrat transplantasi ke dasar perairan nanti.
Pada saat transplantasi, penyuluh perikanan mencontohkan terlebih dahulu bagaimana cara mengambil bibit ke dasar laut, pemotongan bibit, pengikatan bibit, hingga deploy ke dasar laut.  Kemudian aksi ini diikuti oleh seluruh peserta satu persatu sembari mereka ber”photo selfy” dengan hasil transplantasi yang sudah mereka buat.
Menurut Syendie, selaku pendamping rombongan, ia sangat terkesan  dan tidak menyangka kalau di Kalsel itu ada pemandangan bawah laut yang mempesona ini.   Salah satu peserta, Leny, sangat senang dengan adanya kegiatan ini, sebab menurutnya, kegiatan ini memberikan mereka keterampilan dan pengalaman mengenai cara snorkeling dan transplantasi karang secara langsung di lapangan.  Mereka berharap agar di lain waktu dan kesempatan, bisa kembali ke Angsana sekaligus monitoring kondisi pertumbuhan terumbu karang yang sudah mereka tanam.

Let’s Save Our Coral Reefs!!!
Oleh : Eko Prio Raharjo, S.Pi - Pemerhati Terumbu Karang 



Senin, 05 Januari 2015

Angsana Snorkeling Trip


Maaa….lihat, itu ikannya buanyaaaak banget, ambilin buat Adi maaaaa…..” teriak seorang anak kepada ibunya yang tengah berada di atas kapal.  Sementara di kapal sebelahnya, seorang anak perempuan lagi berujar kepada bapaknya : “Pah…. kok gini… mana ada ikannya??? Cariin dong pah ikan untuk Umi”.
Di pagi hari terdengar hiruk kikuk memecah di tengah keheningan dan gemerisik gelombang lautan, yang diwarnai dengan langit biru yang menambah nuansa damai.  Sedamai hati orang-orang yang berada di atas kapal itu.
Beberapa buah kapal telah tiba di gugusan Batu Anjir, Angsana, Tanah Bumbu, dengan dilengkapi perlengkapan snorkeling dan pelampung, terlihat suasana riang dan gembira bagi pelancong yang berasal dari berbagai daerah untuk menyaksikan keindahan terumbu karang yang cukup unik ini.
Tua dan muda, miskin dan kaya, lelaki dan perempuan, dewasa dan anak-anak, mereka semua berdatangan untuk menyaksikan pesona bawah laut yang sangat berharga ini.  Namun, perlu diingat, semakin banyaknya yang berdatangan, semakin banyak yang melihat dan berdekatan secara langsung dengan terumbu karang, maka resiko atau dampak kerusakannya juga cukup berpotensi.  Untuk itu, sangat diperlukan upaya atau pengelolaan yang berwawasan ramah lingkungan dan berbasis masyarakat, agar sumberdaya hayati yang kita banggakan ini bisa berlangsung lama hingga anak cucu kita kelak.
Sebagai penyuluh perikanan yang konsen dibidang konservasi, saya selalu giat dan tak pernah putus asa dalam memberikan arahan, bimbingan dan pembinaan bagi kelompok pelaku utama perikanan yang ada di kawasan terumbu karang.  Selain memberikan arahan dan bimbingan, saya juga terjun secara langsung ke lapangan sebagai guide atau pemandu wisata ke terumbu karang, dengan maksud untuk melaksanakan S.O.P guna meminimalisir dan menghindari resiko bahaya dan ancaman yang ada baik bagi terumbu karang maupun bagi pengunjung itu sendiri.
Dalam melakukan pendampingan ke pengunjung, sebelum ke lokasi karang (laut) biasanya pengujung diberikan arahan mengenai S.O.P (Standart Operasional Prosedur) snorkeling, bahaya-bahaya saat snorkeling, cara snorkeling yang baik dan ramah lingkungan juga transplantasi karang dan praktik langsung di lapangan.  Bahan dan materi penyuluhan tersebut disampaikan secara lisan dan tertulis, artinya penyuluh perikanan membagikan leaflet kepada para pengunjung yang datang.
Alhamdulillah, berdasarkan hasil interview dan wawancara dari pengunjung yang berdatangan, mereka sangat puas atas pelayanan dan menyaksikan terumbu karang secara langsung.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari masyarakat lokal saja, tetapi juga dari luar kabupaten, luar provinsi, dan bahkan dari luar negeri (Jepang, Belanda dan Itali).
Untuk menikmati keindahan terumbu karang ini, pengujung hanya membayar sewa kapal sebesar Rp 350.000,- per buah kapal dan sewa alat snorkeling Rp 30.000,- per set (terdiri dari masker, snorkel dan pelampung).  Untuk menghemat biaya pengunjung bisa mencater kapal per rombongan dengan maksimal 8 – 12 orang per buah kapal.  Bagi pengunjung yang mau menginap, bisa menginap di MP Resort dengan tarif sekitar antara Rp 400.000,- s/d Rp 650.000,- per buah kamar atau menginap di homestay penduduk dengan tarif sekitar antara Rp 250.000,- s/d Rp 400.000,- per buah.
Kalo kita lihat hal seperti tersebut di atas, maka jelaslah sudah dengan adanya pengembangan wisata bahari ini telah meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.  Dengan didasari dan dilatar belakangi upaya pelestarian atau konservasi terumbu karang secara kontinyu dan mengeksposenya ke media massa (media elektronik, media tayang, media terdengar dan media cetak), alhasil, sekarang masyarakat sekitar sudah memanen hasilnya.
Ayo… mari kita lestarikan terumbu karang kita melalui kegiatan wisata bahari, belajar sambil berwisata, berwisata sambil konservasi!!! 
Oleh : Eko Prio Rahrjo, S.Pi-Pemerhati Terumbu Karang

Rabu, 30 April 2014

IPKANI TANAH BUMBU GELAR BIMTEK TRANSPLANTASI KARANG METODE LEPAS DASAR DAN SNORKELING

Ketua IPKANI Tanah Bumbu, Sang Instruktur Pelatihan
Kegiatan Bimtek (Bimbingan Teknis) merupakan salah satu metode penyuluhan yang bertujuan untuk menyampaikan teknik atau cara melakukan suatu terapan teknologi, atau istilah lainnya dalam penyuluhan lebih dikenal dengan sebutan Demcara (Demonstrasi Cara).  Dengan demikian, diharapkan para peserta atau sasaran yang disuluh mengetahui cara atau teknologi yang disampaikan.  Selama 2 hari berturut-turut, bertempat di Pantai Wisata Angsana Bahari Desa Angsana Kecamatan Angsana Kabupaten Tanah Bumbu, telah dilaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis Transplantasi Karang Metode Lepas Dasar.  Kegiatan ini kerja sama DPC. IPKANI Tanah Bumbu dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris STAIN Palangkaraya yang difasilitasi desa setempat.
Materi yang disampaikan meliputi Teknis Transplantasi Karang Metode Lepas Dasar, Pengenalan Fungsi dan Peranan Alat Snorkeling, Standar Operasional Snorkeling, dan Masalah-masalah Yang Timbul Saat Melakukan Snorkeling.  Selain itu, pada kegiatan ini tidak hanya materi saja yang disampaikan, tetapi para peserta juga langsung  praktek ke laut Angsana.  Sebagai Narasumber, Eko Prio Raharjo, S.Pi, yang juga Ketua DPC. IPKANI Tanah Bumbu.
Sang Instruktur Mempraktekkan Teknis Transplantasi
Kali ini kegiatan transplantasi bukan hanya diperkenalkan pada masyarakat setempat saja, melainkan juga pada masyarakat umum (pemuda, pemudi, tua, muda, dll). Pada Bimtek ini, pesertanya adalah para mahasiswa dan mahasiswi dari luar daerah (Palangkaraya, Kalteng).
Tujuan kegiatan bimtek ini antara lain adalah sebagai berikut  :
  1. Untuk memperkenalkan terumbu karang yang ada di Kabupaten Tanah Bumbu
  2. Untuk memperkenalkan teknis transplantasi karang yang ada (metode lepas dasar)
  3. Untuk memperkenalkan alat snorkeling dan cara menggunakannya
  4. Untuk memotivasi para peserta supaya bisa dan tertarik untuk melestarikan terumbu karang ke depan
  5. Untuk memberikan pengetahuan, keterampilan dan perilaku serta pengalaman ke arah pelestarian terumbu karang
  6. Untuk melestarikan terumbu karang yang ada di Kabupaten Tanah Bumbu khususnya dengan melibatkan masyarakat umum.
 Materi yang disampaikan berupa teori dan praktek, untuk teori dilakukan pada  Sabtu malam (malam Minggu) tanggal 08 Februari 2014 bertempat di Posko Pantai Angsana yang juga merupakan Pos Penyuluhan.  Pada malam ini, para peserta diperkenalkan mengenai arti dan peran terumbu karang beserta gambarnya, peralatan snorkeling (masker, snorkel dan fin).  Sedangkan pada pagi harinya (Minggu siang) tanggal 09 Februari 2014, setelah sarapan, materi dilanjutkan dengan materi SOP snorkeling dan masalah-masalah yang timbul saat melakukan snorkeling.  Materi ini disampaikan dengan maksud bahwa para peserta telah menguasainya sebelum turun ke lapangan, hingga diharapkan akan terhindar dari bahaya dan hal-hal yang tidak diinginkan.  Setelah sarapan, para peserta langsung diarahkan untuk melakukan pemanasan selama ± 15 menit, setelah itu langsung bersiap-siap ke laut.
Photo Bareng Di Pantai Angsana
Setelah beberapa saat, akhirnya para peserta sudah menuju Batu Anjir, yang merupakan calon tempat untuk melakukan transplantasi karang.  Setelah sampai disana, instruktur menjelaskan asal usul nama Batu Anjir dan sejarahnya, kondisi terumbu karangnya, kemudian memaparkan teknik melakukan snorkeling yang baik dan benar sesuai SOP yang ada.  Tahap pertama, yang dilakukan oleh peserta adalah praktek melakukan snorkeling kemudian transplantasi karang.  Sebab, setelah peserta menguasai snorkeling baru bisa melakukan transplantasi karang.  Pada tahap kedua, peserta diajarkan teknis transplantasi yang meliputi :
1.   Pemilihan calon lokasi
Untuk memilih calon lokasi transplantasi, peserta diajarkan dan praktek mengenai cara memilih calon lokasi yang baik seperti dasar laut atau kondisi karang yang rusak hingga terlihat rubble (patahan karang), dead coral with alga (alga mati yang ditumbuhi lumut, serta adanya rock (bebatuan), dan lain-lain.
2.   Pengambilan bibit
Untuk mengambil bibit, peserta diajarkan teknik mengambil bibit dengan menggunakan tang, setiap koloni karang hanya sebagian saja yang diambil, jangan seluruhnya hingga akan bisa menghilangkan koloni atau individu karang yang ada.
3.   Pemotongan bibit
Peserta diajarkan dan praktek bagaimana cara memotong bibit karang yang baik sehingga tidak melukai tangan dan tidak mengakibatkan karang stres dan akhirnya mati.
4    Pengikatan bibit pada subtrat
Setelah bibit karang dipotong-potong dengan menggunakan tang, peserta langsung praktek mengikat bibit pada subtrat di bagian pipa paralon yang ada di tengah-tengah subtrat.  Pengikatan  menggunakan kabel tis dari plastik.
5.   Deploy dan penyusunan di dasar laut
Pada tahap ini, masing-masing peserta langsung melakukan deploy atau menceburkannya ke dasar laut dengan menaruhnya secara langsung sambil menyusunnya dengan jarak ± 50 cm dari masing-masing subtrat.
6.   Monitoring
       Tahap monitoring hanya dijelaskan oleh instruktur, karena monitoring ini dilakukan setelah transplantasi karang dilakukan selama 3 bulan, 6 bulan atau bahkan 1 tahun sekali, tergantung dari anggaran biaya, kondisi cuaca dan tujuan monitoring.
Setelah semua subtrat diceburkan semua, materi selanjutnya adalah acara bebas, dalam kegiatan para peserta dipersilakan melakukan snorkeling sepanjang tidak mengganggu biota laut dan tidak bertentangan dengan standar operasional prosedur yang telah disampaikan. (echo).