Sabtu, 20 Juli 2013

Kondisi dan Sebaran Terumbu Karang Di Kab. Tanah Bumbu Prov. Kalimantan Selatan


A. Latar belakang

Terumbu karang mempunyai nilai dan arti yang sangat penting baik dari segi sosial ekonomi dan budaya, karena hampir sepertiga penduduk Indonesia yang tinggal di daerah pesisir menggantungkan hidupnya dari perikanan ekosistem laut dangkal ini.

Untuk itu, sebagai tahap awal yang dilakukan dalam rangka memelihara dan mengelola ekosistem terumbu karang, terlebih dahulu harus dilakukan kegiatan inventarisasi terhadap gugusan atau ekosistem terumbu karang itu sendiri.  Setelah data tersebut diperoleh, akan sangat memudahkan sebagai bahan untuk bahan selanjutnya.

Potensi kelautan dan perikanan  di Kab. Tanah Bumbu
Kabupaten Tanah Bumbu merupakan kabupaten yang mempunyai beraneka ragam potensi kelautan dan perikanan, yang terbentang dari kecamatan Satui sampai kecamatan Simpang Empat.  Potensi sumberdaya kelautan dan perikanan Kabupaten Tanah Bumbu cukup besar dengan bentangan garis pantai dari desa Sei Cuka (di ujung barat) sampai ke desa  Sei Dua (di ujung timur/utara) sepanjang 158,7 km ditambah 5 buah pulau-pulau kecil yang berada di Kecamatan Simpang Empat (Pulau Tampakan, Pulau Burung dan Pulau Anak Burung) dan Kecamatan Batulicin (Pulau Swangi dan Pulau Anak Swangi) dengan luas perairan laut ± 634,80 Km2.

Ekosistem terumbu karang merupakan fenomena kekayaan sumberdaya alam pesisir dan laut yang mempesona serta memberikan manfaat yang berlimpah bagi kehidupan manusia, yang harus dijaga dan dilindungi karena berfungsi sebagai sumberdaya hayati ikan dan non ikan yang hidup di perairan laut.

Ikan "Clown Fish" yang ada di gugugan karang Tanah Bumbu 
Terumbu karang (coral reefs) merupakan habitat sistem kehidupan biota laut yang hangat, jernih, tidak dalam, yang kaya dengan keanekaragaman hayati.  Struktur terumbu karang yang ada dimulai dari terbentuknya algae hijau-biru, kemudian sponge dan coral.

Di Kabupaten Tanah Bumbu, terumbu karang merupakan salah satu sumberdaya hayati laut yang dilindungi, namun data mengenai keberadaan terumbu karang tersebut masih sangat terbatas, artinya masih banyak gugusan terumbu karang yang masih belum disurvey, dimonitoring dan diidentifikasi kondisinya.  Untuk itu, diperlukan suatu upaya yang lebih serius dalam menanganinya.


B.  Kondisi Terumbu Karang

Kondisi terumbu karang di Kabupaten Tanah Bumbu sangat bervariasi dari kritis (rusak berat) rusak ringan, baik bahkan sampai baik sekali.  Umumnya terumbu karang  yang muncul ke atas permukaan laut, tergolong kondisi kritis, hal ini diduga karena pada saat air berada pada surut terendah (musim tertentu), permukaan gugusan karang terkena sinar matahari langsung selama beberapa jam, dan ini rutin terjadi.  Polyp karang yang masih melekat pada tubuh kerangka kapur mengalami stress hingga lama kelamaan mati.

Kondisi gugusan Karang Kima, Angsana pada saat air surut
Selain itu, karena pada saat air laut berada pada pasang surut terendah permukaan gugusan karang hanya mencapai 2 – 3 m, hal ini mengakibatkan seringnya tertabrak kapal hingga di daerah ini banyak ditemukan rubble (pecahan/patahan) karang.  Rubble karang tersebut kebanyakan dari karang acropora (branching), sedangkan pada karang massiv (gundukan/bongkahan batu besar) pengaruhnya pada warna karang yang pudar karena kehilangan polyp.  Selain itu, pada kondisi karang seperti ini kebanyakan ditumbuhi alga, karena lama kelamaan terkena terik cahaya matahari sehingga alga tumbuh dengan subur karena masih bisa melakukan fotosintesa.  Selain tertabrak kapal, juga terkena pendorong perahu/kapal, jangkar, atau bahkan terkena tendangan roda kapal bagi karang-karang acropora dan aktifitas pariwisata.  Untuk itu, sangat diperlukan kehati-hatian dan kejelian bagi para pengunjung.
Kalo mau pintar, "Ya Makan Ikan....Coyyyyy"

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, ternyata saat ini terumbu karang yang ada diihadapkan pada beberapa tekanan yang menjadi ancaman bagi terumbu karang.  Untuk itu, dalam upaya pelestarian terumbu karang di Kabupaten Tanah Bumbu harus diperhatikan, dan ditindaklanjuti secara serius.  Mengapa??? Karena terumbu karang adalah potensi sumberdaya hayati yang sangat bermanfaat dalam hidup kita.  Terumbu karang sebagai sumber protein hewani, pelindung pantai dari abrasi dan gelombang, sebagai tempat hidup, berkembang biak dan mencari makan bagi ikan, untuk penelitian dan pariwisata serta sebagai bahan baku untuk pembuatan obat.

Selain itu, dengan adanya terumbu karang bisa menjadikan salah satu sumber pendapatan daerah  yang memadai, asalkan dikelola secara serius dan profesional.   Sebagai bahan renungan, mari kita simak hasil penelitian di Filiphina sebagai berikut :

Menurut (White and Cruz-Trinidad, 1998), bahwa hasil Penelitian di Filiphina, 1 km2 terumbu  karang  sehat  dapat menghasilkan  keuntungan  sebagai berikut :
  1. $15.000-$45.000/tahun (Rp.150.000.000 – 450.000.000/Tahun) dari perikanan secara berkelanjutan;
  2. $2.000-$20.000/tahun (Rp.20.000.000 – 200.000.000/Tahun) dari keuntungan pariwisata dan ekonomi;
  3. $5.000-$25.000 (Rp.50.000.000 – 250.000.000/Tahun) dari perlindungan pesisir (abrasi);
  4. Dengan total keuntungan/pendapatan potensial  antara $32.000-$113.000/km2/tahun (Rp.320.000.000 – 1.130.000.000/Tahun).
Secara umum, ada 2 faktor yang sangat signifikan dalam mempengaruhi keberlangsungan hidup terumbu karang, antara lain :

1.    Faktor Alam
Kondisi gugusan karang yang rusak akibat faktor alam
      Faktor alam suatu pengaruh yang ditimbulkan oleh kondisi alam yang tidak stabil seperti ”global warming” atau pemanasan global.  Dampak pemanasan global saat ini sudah mulai terasa baik tingkat lokal, nasional maupun dunia.  Permasalahan ini sudah dianggap paling serius dan menyangkut eksistensi terumbu karang di dunia.  Dengan adanya pemanasan global, sinar matahari langsung yang jatuh ke bumi lebih terik dari pada sebelumnya karena lapisan ozon (O3) yang menyaringnya sudah menipis  sehingga mengakibatkan permukaan bumi (dalam hal ini termasuk laut) menjadi lebih panas.  Dengan adanya kondisi demikian menyebabkan peristiwa ”bleaching” atau pemutihan terumbu karang.  Dalam kondisi seperti ini, terumbu karang menjadi berwarna putih, karena polyp karang sudah mati dan meninggalkan kerangka karang yang terdiri zat kapur.  Bencana alam seperti hujan dan banjir juga mempengaruhi, karena partikel-partikel yang berasal dari hulu sungai terbawa ke laut dan menumpuk di ekosistem terumbu karang, apalagi daerah hulu sungai daratannya sudah terkikis karena penebangan pohon, dll.

2.    Faktor Manusia
Aktifitas manusia merupakan salah satunya faktor yang paling berpengaruh secara langsung terhadap terumbu karang, artinya dampak yang ditimbulkannya dalam hitungan detik, tidak seperti faktor alam yang memakan waktu ratusan bahkan ribuan tahun.  Selain itu, faktor alam juga sebagian karena berasal dari faktor manusianya juga.  Kegiatan yang sering merusak terumbu karang dari manusia adalah pengambilan karang untuk bahan bangunan, aktivitas pariwisata, penangkapan ikan dengan menggunakan bom, racun dan membongkar terumbu karang, tertabrak kapal, terkena jangkar dan kayu pendorong kapal, penebangan liar, dll.

Westmacott (2000), mengatakan bahwa hingga saat ini, tekanan yang disebabkan oleh manusia seperti pencemaran dari daratan dan praktek perikanan yang merusak telah dianggap sebagai bahaya utama bagi terumbu karang.  Sementara masalah ini belum hilang, telah muncul kembali ancaman lain yang lebih potensial, yaitu adanya pemutihan karang (bleaching).
 
Kondisi terumbu karang yang rusak akibat faktor manusia
Menurut Suhaili Asmawi (2007), kondisi terumbu karang di Kabupaten Tanah Bumbu bervariasi, dari kategori kritis (rusak berat), rusak ringan sampai sangat baik.  Berdasarkan hasil penelitiannya, ia mengemukakan bahwa kondisi terumbu karang Di Karang Kima (Angsana),  pada lereng terumbu persentase tutupannya 58,4% (kategori sehat) sedangkan pada rataan terumbu persentasenya tutupannya 48,9 – 22,7% (kategori rusak sampai kritis).  Ikan yang tercacah pada karang ini berjumlah 12 family dan 49 spesies.  Untuk di Karang Mangkok (Sungai Loban), pada lereng terumbu persentase tutupannya 68,8% (kategori sehat) sedangkan pada rataan terumbu persentase tutupannya 24,9 – 21,4% (kategori kritis), dengan jumlah ikan yang tercacah sebanyak 11 family dan 47 spesies.  Untuk ikan indikator (Chaetodontidae), pada Karang Kima berjumlah 9 dari 10 jenis di lereng terumbu dan 3 – 7 jenis dari 10 jenis di rataan terumbu sedangkan pada Karang Mangkok berjumlah 8 dari 10 jenis pada lereng terumbu dan 2 dari 10 jenis pada rataan terumbu.  Jika kita amati hasil penelitian di atas, maka terlihat bahwa pada rataan terumbu lebih banyak kondisinya yang rusak dari pada lereng terumbu.

Menurut Anonim (2006), lifeform (bentuk pertumbuhan) karang dibedakan menjadi 6 (enam) kategori, yaitu sebagai berikut :

1.  Bentuk bercabang (Branching)
Karang ini memiliki cabang dengan ukuran cabang lebih panjang dibandingkan dengan ketebalan atau diameter yang dimilikinya.
2.  Bentuk padat (Massive)
Karang ini memiliki koloni yang keras dan umumnya berbentuk membulat, permukaannya halus dan padat. 
3.  Bentuk kerak (Encrasting)
Karang ini tumbuh merambat dan menutupi permukaan dasar terumbu, memiliki permukaan kasar dan keras serta lubang-lubang kecil.
4.  Bentuk meja (Tabulate)
Karang ini tumbuh membentuk meja dengan permukaan lebar dan datar serta ditopang oleh semacam tiang penyangga yang merupakan bagian dari koloninya.
5.  Bentuk daun (Foliose)
Karang ini tumbuh membentuk lembaran-lembaran yang menonjol pada dasar terumbu, berukuran kecil dan membentuk lipatan-lipatan melingkar.
6.  Bentuk jamur (Mushroom)
Karang ini terdiri dari satu polyp yang berbentuk oval dan tampak seperti punggung bukit yang beralur dari tepi ke pusat.
 
Karang Branching (Bercabang)
Terumbu karang yang ada di gugusan Kabupaten Tanah Bumbu memiliki berbagai keanekaragaman, dengan mencakup semua jenis bentuk pertumbuhan karang yang umum dijumpai di Indonesia, yang biasanya disebut dengan lifeform.  Di Kabupaten Tanah Bumbu, semua jenis lifeform semuanya kategorinya ada baik pada salah satu gugusan maupun semua gugusan karang. 


Berdasarkan hasil survey di lapangan, semua jenis atau bentuk pertumbuhan karang (lifeform) seperti di atas semuanya ada di setiap gugusan terumbu karang di Tanah Bumbu.  Untuk kategori bentuk bercabang seperti Acropora formosa dan Acropora palmata, bentuk massive seperti Platygyra daedalea dan Goniastrea pectinata, bentuk kerak seperti Porytes vaughani, bentuk meja seperti Acropora glauca dan Acropora hycinthus, bentuk daun seperti Merulina ampliata dan Pectinia lactuca, bentuk jamur seperti Fungia danai dan  Fungia granulosa. 
Karang Tabulate (Meja)

 Perlu kita ketahui, bahwa bentuk-bentuk pertumbuhan terumbu karang ini antara satu yang lainnya berbeda-beda, tergantung dengan kondisi perairan di mana ia hidup.  Terumbu karang yang berada di bagian slove, biasanya arusnya deras hingga biasanya jenis karang yang hidup disana adalah karang massiv, yang menyerupai gundukan besar yang ada di dasar perairan.  Untuk karang bercabang biasanya hidup pada arus yang lebih tenang.  Kondisi ikannya pun biasanya berbeda, pada karang-karang massiv biasanya ikannya adalah ikan jenis Serranidae (kerapu), Lutjanus (Kakap), Lethrinidae (Ketamba/Lencam), Haemulidae (Bibir tebal), Carangidae (Kueh), dll.  Sedangkan jenis-jenis ikan yang hidup di wilayah karang branching antara lain seperti Chaetodontidae (Kepe-kepe), Pomacentridae (Betok laut), Caesionaidae (Ekor kuning), dll.


C.  Sebaran Terumbu Karang

Jika ditinjau dari segi letak geografis, lokasi letak gugusan terumbu karang yang ada di Kabupaten Tanah Bumbu seluruhnya saling berdekatan antar satu sama lainnya, juga masih merupakan satu kawasan yang masing-masing wilayah daratannya (garis pantai) terhubung antara satu dengan lainnya.
Berdasarkan hasil survey, secara umum dapat diuraikan bahwa sebaran terumbu karang di Kabupaten Tanah Bumbu sebagai berikut :

1.      Umumnya gugusan terumbu karang di Kabupaten Tanah Bumbu tersebar mulai kecamatan Simpang Empat sampai dengan kecamatan Satui.  Pada kecamatan Simpang Empat terdapat di daerah Pulau Tampakan arah ke utara sedikit ke timur, berdekatan dengan Kabupaten Kotabaru. Di gugusan karang ini  pula terdapat gusung yang luasnya mencapai puluhan hektar, yang berfungsi sebagai tempat substrat karang untuk menempelkan dirinya.  Selain itu, juga terdapat persis di belakang Pulau Tampakan arah ke Selatan (di depan Anak Pulau Burung).

2.      Hamparan terumbu karang ini juga terdapat di Kecamatan Batulicin, tepatnya di  dekat Anak Pulau Swangi, kemudian terus bergerak ke arah selatannya dan membentuk gugusan di dekat muara Pagatan kecamatan Kusan Hilir (arah ke selatan muara) dengan kedalaman 10 – 15 m.  Gugusan terumbu karang ini kemudian terputus dan kemudian terhampar di sekitar desa Betung (masih kecamatan Kusan Hilir), lalu bergerak ke arah tenggara menuju kecamatan Sei Loban, kecamatan Angsana dan kecamatan Satui.

3.      Hamparan terumbu karang ini bervariasi dari 0,1 – 10 ha dengan jarak 0,276 – 95,290 km antar masing-masing gugusan karang.

Berikut gambar sebaran terumbu karang di perairan laut Kabupaten Tanah Bumbu berdasarkan kecamatan :
Peta eksisting karang di Kab. Tanah Bumbu


Berdasarkan hasil survey dari tahun 2009, telah diketahui bahwa gugusan terumbu karang di Kabupaten Tanah Bumbu berjumlah 60 buah, yang tersebar pada 6 (enam) kecamatan yaitu Kecamatan Simpang Empat, Batulicin, Kusan Hilir, Sungai Loban, Angsana dan Satui.  Namun, dari keseluruhan kecamatan yang ada, hanya 3 kecamatan yang bisa disurvey dan diselami, yaitu kecamatan Sungai Loban, Angsana dan Satui.  Hal ini disebabkan karena pada 3 kecamatan tersebut kondisi airnya masih bagus dan jernih (kecerahan antara 1 - 10 m, tergantung musim).  Untuk 3 kecamatan yang tidak bisa ditolerir untuk dilakukannya penyelaman yaitu kecamatan Simpang Empat, Batulicin dan Kusan Hilir, ini disebabkan karena kondisi perairannya sepanjang tahun kurang bagus (sangat keruh), selain itu juga karena pada ketiga kecamatan tersebut banyak terdapat muara sungai yang besar.

Berikut tabel sebaran terumbu karang yang ada di Kabupaten Tanah Bumbu :


Tabel 01. Data Sebaran Nama Gugusan Terumbu Karang Se-Kabupaten Tanah Bumbu Berdasarkan Kecamatan

 
No.
Nama Kecamatan
Nama Gugusan Karang
Keterangan
01
02
03
04
01
Simpang Empat
1.      Gusung Payung
Tenggelam


2.      Batu Tunurappu
Tenggelam
02
Batulicin
1.      Batu Garamesse
Tenggelam


2.      Batu Mandi
Tenggelam
03
Kusan Hilir
1.      Batu Mashidung
Tenggelam


2.      Batu Penyu
Tenggelam


3.      Batu Babaraan
Tenggelam


4.      Batu Penyu
Tenggelam


5.      Batu Ampar
Tenggelam


6.      Batu Payung
Tenggelam
04
Sungai Loban
1.      Batubarru
Tenggelam


2.      Karang Luar Tanjung
Tenggelam


3.      Sungai Pandan
Tenggelam


4.      Karang Penyulingan
Timbul


5.      Karang Mangkok
Timbul


6.      Karang Samudera
Timbul


7.      Karang Kandang Haur
Tenggelam


8.      Batu Goa-goa
Tenggelam


9.      Karang Sungai Bakau
Tenggelam


10.   Karang Wa Hasan
Timbul


11.   Bagusung
Timbul


12.   Batu Cepa
Tenggelam


13.   Karang Bajangan Sebamban 1
Tenggelam


14.   Karang Bajangan Sebamban 2
Tenggelam


15.   Batu Mingalai
Tenggelam


16.   Karang Ambo Gemmi
Tenggelam


17.   Karang Lola
Timbul


18.   Batu Mingalai
Tenggelam


19.   Batu Mona
Tenggelam


20.   Batu Mabelae
Tenggelam


21.   Batu Masjid
Tenggelam


22.   Batubaru
Tenggelam


23.   Batu Beronang
Tenggelam


24.   Karang Luna Maya
Tenggelam
05
Angsana
1.      Karang Kima
Timbul


2.      Karang Ibu
Tenggelam


3.      Anak Karang Kima
Tenggelam


4.      Batu Sawar
Tenggelam


5.      Batu Tengah
Tenggelam


6.      Batu Anjir
Timbul


7.      Batu Bajangan
Tenggelam


8.      Batu Penggadungan
Tenggelam


9.      Batu Luar Penggadungan
Tenggelam


10.   Batu Teraban Kecil
Tenggelam


11.   Batu Muara
Tenggelam


12.   Batu Penyaungan
Tenggelam


13.   Batu Pelampung
Tenggelam


14.   Tanjung Batu
Tenggelam


15.   Luar Tanjung Batu
Tenggelam


16.   Sampaian Ampat
Tenggelam
06
Satui
1.    Batu Buaya
Timbul


2.    Batu Bajangan kecil
Timbul


3.    Batu Labuan Kenceng
Tenggelam


4.    Batu Kembang
Tenggelam


5.    Batu Setapa
Tenggelam


6.    Batu Bajangan Besar
Tenggelam


7.    Batu Mabucing
Tenggelam


8.    Batu Rasak
Tenggelam


9.    Batu Papadangan
Tenggelam


10. Batu Ayaman
Tenggelam

Jumlah (Buah)
60 gugusan

Sumber : Data Primer Yang Diolah (2009)
  
Nah, setelah kita mengetahui betapa banyaknya gugusan terumbu karang yang ada, maka dengan ini kami mengajak kepada seluruh lapisan agar supaya bisa ikut turut serta dalam upaya pelesetarisan ekosistem terumbu karang.  Karena, masih banyak nelayan/masyarakat pesisir yang mencari nafkah di laut demi menghidupi keluarga mereka.  Kita pun juga ketergantungan dengan apa yang dibawanya dari dalam laut itu sendiri (hasil tangkapan ikan), karena tubuh kita sangat ketergantungan dengan protein hewani yang ada pada tubuh ikan.  Anak-anak kita memerlukan Omega 3 untuk pertumbuhan mereka.  Kalo laut dan ekosistem yang ada di dalamnya tidak dipelihara, bagaimana nantinya nasib masa depan gererasi muda kita yang hidup kekurangan protein untuk pertumbuhannya. (echo).
SAVE OUR CORAL REEFS...!!!
 Oleh : Eko Prio Raharjo, S.Pi - Pemerhati Terumbu Karang

Senin, 10 Desember 2012

Terumbu Karang, Prosfek Di Masa Kini dan Masa Depan...


Terumbu karang, rumah bagi ikan dan biota laut lainnya
       Dewasa ini pembangunan di segala bidang telah digalakkan oleh pemerintah, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan budaya, industri, teknologi dan lain sebagainya yang pasti dengan adanya peningkatan pembangunan di segala bidang, bertujuan untuk mencapai  masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur.  Oleh karena itu, demi tercapainya tujuan tersebut, kita selaku warga negara yang baik seyogyanya mendukung upaya-upaya tersebut dengan cara ikut serta baik dalam pemikiran, tindakan maupun perbuatan yang nyata pula.


    Dalam bidang pariwisata, terumbu karang sangat memegang peranan yang sangat penting dan sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai wisata bahari dan terumbu karang seperti snorkeling dan diving. 
Di bidang kelautan dan perikanan, terumbu karang mampu menyediakan berbagai kebutuhan dan sumber pangan dan sekaligus sebagai sumber protein hewani bagi umat manusia, yang sangat berperan dalam perkembangan otak dan daya fikir (kecerdasan) anak pada masa pertumbuhannya.  Selain itu, terumbu karang juga berfungi sebagai pelindung garis pantai dari abrasi.
Karang Massiv (Kiri) dan Sponge (Kanan)
 Sebagai sumber protein, terumbu karang menyediakan berbagai jenis ikan yang bersimbiosis dengan biota-biota laut yang ada di dalamnya seperti family seranidae (kerapu), lutjanidae (kakap), lethrinidae (ketamba), acanthuridae (botana), mulidae (biji nangka), siganidae (beronang), hamulidae (bibir tebal), carangidae (kueh), chaetodontidae (kepe-kepe), pomachenridae (betok laut), pomacanthidae (napoleon), ephippidae (platak) dan lain sebagainya.




Bagi biota yang hidup di dalamnya, terumbu karang berperan sebagai tempat mencari makan (feeding), daerah asuhan (nursery ground), berpijah/kawin (spawning), berlindung dari predator (protection), dan lain sebagainya.   Yang pasti, terumbu karang merupakan “rumah ikan” (Home of Fishes) atau tempat tinggal bagi ikan dan biota laut lainnya.  Coba anda bayangkan, bagaimana jikalau anda tidak punya rumah, atau punya rumah tetapi rusak dan tidak layak huni, apakah anda betah untuk tinggal disana? Sudah barang tentu begitu juga bagi ikan, jika terumbu karang rusak maka ikan akan sedikit, sebaliknya jika terumbu karang sehat, ikan pun akan berlimpah pula.

           Dalam bidang pendidikan, terumbu karang merupakan arena untuk studi atau penelitian di segala bidang. Dewasa ini, khususnya di bidang farmasi dan kedokteran, para ilmuwan di negara maju telah meneliti sejauh mana manfaat terumbu karang, dimana terumbu karang bisa digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit.
Kondisi karang yang ada di dasar laut
          Berdasarkan hasil penelitian di Filipina, bahwa 1 km2 terumbu  karang  sehat  dapat menghasilkan  keuntungan  sebagai berikut : $15.000-$45.000/tahun dari perikanan secara berkelanjutan, $2.000-$20.000/tahun dari keuntungan pariwisata dan ekonomi, $5.000-$25.000 dari perlindungan pesisir (abrasi), sehingga total keuntungan/pendapatan potensial  antara $32.000-$113.000/km2/tahun (White and Cruz-Trinidad, 1998).


Namun, berbanding terbalik dari hal tersebut di atas, sangat disayangkan berbagai nilai ekologis dan ekonomis terumbu karang yang tinggi ini sekarang sedang mengalami penurunan yang sangat mengkhawatirkan akibat degradasi dan kerusakan yang cukup parah.  Dari sekitar 85.000 km2 luas terumbu karang di Indonesia, lebih dari 40 % dalam kondisi rusak dan hanya sekitar 6,5% dalam kondisi sangat baik.  Jika hal ini kita biarkan, sudah barang pasti anak dan cucu kita hanya bisa mendengar dan melihat pada gambar, tanpa dapat menyentuhnya apalagi bercengkerama langsung dengan ikan dan terumbu karang. Coba anda bayangkan…..!!!

            Nah, kalo kita sudah tahu betapa hebat dan pentingnya peranan terumbu karang dalam kehidupan kita, maka sebagai warga negara yang baik, berakhlakul karimah dan bertanggung jawab, kita harus mengisi kemerdekaan bangsa kita dengan hal-hal yang positif dan berguna baik bagi agama, nusa dan bangsa juga lingkungan sekitar, yang dalam hal ini terkhusus untuk terumbu karang.  Sebab mengisi kemerdekaan itu tidak hanya angkat senjata ke medan perang, tetapi juga harus dilakukan pada saat pasca kemerdekaan itu sudah kita rebut.

Sponge yang terdapat di dasar slove Karang Kima
Perlu kita ingat bahwa mengisi kemerdekaan bukanlah hanya pada kegiatan-kegiatan pembangunan fisik dan sarana prasarana yang bisa dilihat secara nyata saja, tetapi juga yang terpenting terhadap hati dan jiwa  manusia, termasuk di dalamnya menanamkan rasa sayang, rasa memiliki dan rasa mencintai kepada sesama manusia, dan tidak kalah pentingnya….kepada alam, salah satunya terumbu karang.

            Kalau bukan kita-kita, siapa lagi yang akan memperhatikan terumbu karang??? Maka dari itu, kami menghimbau kepada kita semua, selamatkan terumbu karang kita, karena terumbu karang merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan keberhasilan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat yang hidup di wilayah pesisir.

            Bagaimana cara kita menyelamatkannya??? Untuk menyelamatkannya kita harus mempunyai strategi-strategi yang mantap dan bisa diandalkan.  Ada 9 strategi yang dapat kita lakukan dalam mengelola terumbu karang :

  1. Pengelolaan ekosistem terumbu karang yang berbasis masyarakat (pemberdayaan masyarakat pesisir)
  2. Pengurangan degradasi terhadap terumbu karang
  3. Pengelolaan terumbu karang berdasarkan karakteristik ekosistem, potensi, tata ruang wilayah, pemanfaatan, status hokum dan kearifan masyarakat pesisir
  4. Perumusan dan pengkoordinasian program-program pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota, pihak swasta dan masyarakat
  5. Menciptakan dan memperkuat komitmen, kapasitas dan kapabilitas bagi pengelola terumbu karang
  6. Pengembangan dan peningkatan dukungan masyarakat luas dan peningkatan kesadaran seluruh lapisan masyarakat mengenai arti penting nilai ekonomis dan ekologis dari ekosistem terumbu karang
  7. Penyempurnaan berbagai peraturan perundang-undangan serta definisi criteria keberhasilan pembangunan dalam upaya pelestarian terumbu karang
  8. Peningkatan jaringan dan kemitraan antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, swasta, LSM dan masyarakat itu sendiri
  9. Peningkatan penegasan komitmen pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, swasta, LSM dan masyarakat serta mencari dukungan lembaga dalam dan luar negeri dalam penyediaan dana untuk mengelola ekosistem terumbu karang.
Transplantasi metode rak besi
Selain strategi tersebut di atas, ada beberapa teknis yang dilakukan untuk merehabilitasi terumbu terumbu karang.  Pertama, dengan cara melakukan transplantasi atau pencangkokan (Reefs transplantation) terumbu karang, yaitu dengan mengikatkan anakan karang pada sebuah substrat agar pada saat tumbuh anakan karang tidak mudah hanyut terbawa oleh arus air.  

Metode transplantasi ini ada yang menggunakan rak besi dan ada pula yang tidak, tergantung biaya yang tersedia dan tujuan kegiatan, sebab kalau menggunakan rak besi biaya yang diperlukan lumayan mahal. Kedua, dengan cara melakukan atau pengolahan terumbu karang buatan (artificial reefs), dengan membuat semacam bangunan atau apa saja yang berguna sebagai tempat atau substrat bagi benih karang untuk menempel.  

Transplantasi karang metode lepas dasar
Ketiga, dengan cara menggabungkan kedua metode tersebut, yakni dengan membuat terumbu karang buatan sekaligus sebagai tempat transplantasi terumbu karang.  Terhadap ketiga macam teknis ini, biasanya sering didatangi ikan-ikan sebab akan menjadi tempat persembunyian ikan-ikan karang dan biota lainnya.  Namun, walaupun terumbu karang ini bisa direhabilitasi tetapi memerlukan biaya yang tidak sedikit dan waktu yang sangat lama.  Untuk itu, sebagai warga Negara yang baik, seyogyanya kita bisa  mengelola dan memelihara terumbu karang, jangan malah merusak dan menyakitinya.  Karang juga punya perasaan kok…


Berikut rumus yang mutlak untuk diperhatikan dalam mempelajari kondisi terumbu karang, yakni : “jika terumbu karang sehat maka ikan berlimpah, pendapatan nelayan pun bertambah - jika terumbu karang rusak maka ikan pun musnah, pendapatan nelayan pun manggah”.  Hendaknya kalimat tersebut bisa kita renungkan bersama.

Marilah kita mengisi kemerdekaan yang dititipkan kepada kita semua, dengan melakukan segala hal yang positif dan berguna baik bagi nusa, bangsa dan agama, dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada secara ramah lingkungan dan bertanggung jawab.
SAVE OUR CORAL REEFS!!!

 Oleh : Eko Prio Raharjo, S.Pi - Pemerhati Terumbu Karang

Senin, 30 April 2012

Dengan Bereproduksi, Karang Bisa Menjadi Lebih Banyak

Apa anda tahu??? terumbu karang termasuk golongan "hewan" atau "tumbuhan"??? Nah, untuk menjawab soal itu, anda harus tahu terlebih dahulu apa itu terumbu karang. Terumbu karang merupakan kumpulan ribuan karang yang menjadi tempat hidup, berkembang biak, tumbuh, berlindung, serta sebagai tempat mencari makan bagi ikan-ikan dan biota-biota laut yang ada di dalamnya.


Selain itu, terumbu karang juga berfungsi sebagai penahan abrasi daerah pesisir dari gempuran ombak dan badai.  Di sisi lain, terumbu karang berguna sebagai bahan baku obat-obatan, sebagai obyek wisata serta sebagai obyek penelitian dan pendidikan serta sebagai tempat berlindungnya biota-biota langka.

Terumbu karang yang ada di dasar laut tampak seperti tumbuhan laut, tetapi sebenarnya mereka adalah sekumpulan hewan-hewan kecil yang disebut Polyp.  Polyp adalah makhluk yang sangat sederhana dan merupakan "hewan" yang tak mempunyai tulang belakang.  Polyp ini masih merupakan kerabat dekat dengan ubur-ubur, namun ukurannya saja yang lebih kecil.
           
Pada polyp terdapat tentakel yang berfungsi untuk menangkap berbagai jenis mangsa yang terdiri dari hewan dan tumbuhan laut yang sangat kecil (plankton).  Pada tentakel polyp ini terdapat racun untuk memudahkan dalam menangkap mangsa.
           
Nah, dengan penjelasan seperti tersebut di atas, anda pasti tahu siapa sebenarnya terumbu karang. Pada dinding polyp terdapat 3 lapisan yaitu lapisan ekstoderm, endoderm dan mesoglea.  Lapisan ekstoderm merupakan lapisan terluar, lapisan mesoglea merupakan lapisan yang berada di tengah dan lapisan endoderm merupakan lapisan yang paling dalam. Dalam memasak makanan, karang bersimbiosis dengn alga yang disebut Zooxanthellae yang merupakan pemasak makanan bagi karang.
Karang dan bagian-bagiannya
Reproduksi karang (Aseksual0
Seperti makhluk hidup yang lainnya, karang juga melakukan reproduksi untuk tetap beradaptasi dari kepunahan, hanya saja perlu diketahui bahwa waktu yang diperlukan oleh karang untuk tumbuh sangat lama, yakni mencapai puluhan, ratusan dan bahkan ribuan tahun.  Sebagai pembanding, selama 1 tahun rata-rata karang hanya dapat menghasilkan batu karang setinggi 1 cm saja, itu pun jikalau kondisi lingkungan perairan yang memadai.

Sebagai hasil sekreasi dari polyp karang, karang ini menghasilkan endapan-endapan kapur yang berfungsi untuk menyokong (penyangga).   Ada 2 cara karang bereproduksi, yaitu cara seksual dan aseksual.  Cara seksual dilakukan dengan cara bertemunya gamet jantan dan betina di dalam badan perairan kemudian membentuk zigot yang kemudian akan berkembang menjadi larva planula. 
Reproduksi karang (Seksual)
Sedangkan cara aseksual dilakukan dengan cara membelah diri (memperbanyak diri), hal ini akan dilakukan oleh planula ketika sudah tumbuh menjadi polyp karang.

 Dengan diketahuinya begitu besar manfaat terumbu karang dan pertumbuhannya sangat lambat, maka kami mengajak kepada semua pihak mari kita lestarikan terumbu karang!!!   
 Save Our Coral Reefs!!!

Oleh : Eko Prio Raharjo, S.Pi - Pemerhati Terumbu Karang